Jumat, 23 Agustus 2013

seruan kata manis dari sang (K U D A S A B)

Ketika semua rasa ini untuk Allah, hidup terasa lebih indah di pandang ketika melihat semua alam yang tersusun sesuai kodrat dan tempatnya, berkisah dari sebuah perjalanan sang penganut agam kristen yang terus berjuang meniti hidupnya ketika ia mulai mersa lemah dengan keadaan, kadang hidupnya seperti mengatur dirinya yang entah kemana alur ceritanya

semasa itu ada sebuah gubuk tua ketika di tiup angin bagaikan ingin menghancurkan seluruh isinya,dan tat kala pemuda itu berdiri di pinggiran rumah yang rentan akan rubuh itu, ketika itu ia melihat seorang anak kecil dengan tinggi 135 cm dengan menggunakan sarung yang tergantung pada pundaknya dengan menggunakan celana pendeknya yang berwarna merah, saat itu anak tersebut akan menyeberangi sungai dengan menggunakan sampan yang tak berapa besar, yang kira kira bisa dinaiki 2 sampai 4 orang, lalu terjadilah dialog antara anak dan sang pemuda tersebut,

         "wahai adik, kemana kah gerangan kau akan melabuhkan perahu kecil ini",

" wahai tuan, apakah tuan ini adalah penduduk kampung sini, tetapi kenapa wajah tuan begitu dekil dan bertubuh layu seperti ini, apa yang telah tuan lakukan, kenapa tuan tidak memiliki perjuangan hidup, sedangkan Allah membenci kepada orang yang berputus asa dan suka melemahkan diri, padahal ia mampu untuk bergerak".

        " aku begini karena tidak ada yang ku ketahui tentang dunia ini, dan aku begini karena ku ditelantarkan keluargaku ketika ku mulai berusaha untuk mencari kebenaran pada hidupku, karena aku sering melawan arus dalam agamaku, aku selalu di hancurkan oleh hidupku sendiri, ya sudahlah adik kecil, hidupku ini tiada artinya jika ku ceritakan pada mu,ku kesini hanya igin meminta pertolongan mu, bisa kah kau mengantarkan ku keseberang pulau sana?, ketika ku lihat dari jauhnya pandangan, serasa aku melihat ada hawa ketenangan disana",

"baiklah tuan, jika tuan mau kesana berrti tujuan kita pun sama, tapi sebelum kita berangkat hendaknya kita menunggu sebentar, hingga datangnya waktu solat zuhurku,"

           " oh baiklah kalau begitu kata pemuda tersebut".
waktu nya zuhur pun tiba dan anak itu menunaikan kewajibannya, dan pemuda tadi pun menunggu didepan pintu mushola yang tak jauh dari bibir pntai, kira kira sekitar 15 meter dari bibir pantai,

" wahai tuan apakah tuan tidak iku solat bersama ku, kenapa tuan hanya bersiam diri saja",

          "aku ini beagama nasrani, jadi itu bukanlah kewajibanku, karena tuhanku dan tuhan mu berbeda, baiklah dik mari kita pergi, aku sudah tak tahan dengan hawa disini yang selalu membuatku terasa jauh dengan hidup nyataku,"

" baiklah tuan,marilah kita pergi, karena cuacapun tak bersahabat, marilah kita lanjutkan perjalanan ini, 

setelah terjadinya tanya jawab antara pemuda dan si adik kecil tersebut maka berangkatlah mereka untuk menyeberangi sungai tersebut dengan perasaan yang penuh was was, karena cuaca dan keadaan lagi tidak bersama mereka,.dengan rasa waspada seorang pemudah yang sedang mengarungi nasibnya itu pun mulai tak hentinya berdoa, tak lama hari tiba tiba berubah menjadi terang dan begitu hangat, terik matahari yang ingin menyapa pun mulai bersinar dengan megahnya, layaknya seorang raja yang sedang memimpin sebuah kerajaan, ditengah perjalanan siadik kecil itupun bertanya

"wahai tuan, sebenarnya siapakah tuan ini dan siapakah nama tuan ?"
     
      " wahai adik, aku ini seorang pemeluk agama nasrani, dan aku binggung dengan keadaan dan ajaran ku yang selalu semena mena padaku, aku hanya ingin membenarkan agamaku saja", nama ku mi'lan,aku selalu mengarungi nasib tanpa tujuan, hingga aku bertemu dengan mu adik kecil, oh iya dengan lama aku berjalan, siapakah nama mu wahai malaikat kecil"?

" nama ku arif tuan, aku anak dari bapak abdullah dan ibu dari siti mazuani, tepatnya aku tinggal dipulau yang pernah tuan tunjuk tadi"

       "wahai arif boleh kutanya sesuatu padamu ?"

"ya tentu tuan, silahkan saja, jika kubisa menjawab maka akan ku jawab, tapi jika tidak bisa itu menjadi PR bagiku"

      "aku binggung arif, bagaimana bisa kamu dapat memahami arti agama dalam hidupmu, kau selalu menyembah tuhanmu, padahal kau tak melihatnya, dan bagaimana bisa kau menguatkan hatimu dikala kau sering dihantam dengan cobaan cobaan yang kau hadapi tanpa tau jalan solusinya"

"wahai tuan, pertanyaan mu begitu menarik jika ku telaah, aku ini hanya lah si anak bawang, aku belum mengerti arti kehidupan, dan aku juga tidak pernah merasa gelisah, ataupun dihantui oleh rasa kehidupan nyataku,  aku hanya berusaha untuk tegar dan sabar, setiap kali aku memandang wajah ibuku dan ayahku, aku begitu merasa bersalah jika tidak ku tunaikan kewajibanku, ayah dan ibuku pernah mengatakan padaku, jika kau ingin bahagia dunia dan akhiratmu dan ingin diberikan ketenangan dalam jiwa mu maka percaya pada yang satu dan sembahlah iya jangan yang lain, insya Allah kau akan menemukan sesuatu, dan aku berusaha untuk percaya hal itu, karena aku yakin ayah dan ibuku tak akan pernah membohongiku, bagiku mereka malaikat yang Allah turunkan untuk menuntunku kejalan yang lurus, dan menjauhkan jalan yang entah kemana haluannya.

         " aku bangga padamu arif, kau penuh dengan karia seni hidup, dan kau punya kepercayaan dirimu yang kuat, berbeda sekali dengan aku yang begitu enggan melihat tuhanku, apakah kau yakin dengan tuhanku arif"

"wahai tuan, aku ini hanya anak biasa dan aku dari karakter keluarga yang kurang berada, aku juga hanya anak kecil yang baru tumbuh yang sedang mengarungi nasib untuk menemukan jalan hidup, apa yang tuan banggakan kepa saya, ingat tuan ! ayah saya mengajari saya agar tidak sombong dan putus asa, jika tuan mau berbangga hati, bangga-i lah ayah dan ibu saya karena merekalah yang menuntun saya, jika tuhan ingin bertanya kepada saya, apakah saya percaya sama tuhannya tuan, maaf sekali lagi tuan, ibu dan ayah saya mengajari saya untuk tidak percaya kepada yang lain, dan berdirilah atas landasan islam"

         " oh arif maafkanlah atas kelancanganku telah berbicara yang tidak sepantaasnya kepadamu, aku hanya binggung, aku harus bagaimana, akau harus seperti apa, kini aku sendiri, dengan berselimutkan angin malam, selimut yang kadang mengambil separuh dari hidupku"

"tuan tidak perlu meminta maaf kepada saya, saya sebenarnya tidak marah kepada tuan, tapi hanya saya begitu tergerak hati saya, jika ada orang lain yang akan merubah keyakinan saya, kalau begitu tuan akan saya bawa kerumah saya, dan mungkin ada sesuatu yang akan tuan dapatkan disana.

         " terima kasih arif, tak tahu berapa ribu terima kasih yang harus ku sampaikan kepadamu, ya ya arif aku butuh cahaya untuk menerangi hatiku yang kini dilanda angin ribut dan badai yang menguncang"

"OMG tuan, ngak usah lebai dech, hehehe.... begini aja tuan boleh menganti jasa saya ini jika tuan melakukan.......mmmmmm"

         " lakukan apa arif melakukan apa ?"

"lakukan....mmmmmmm"

         " ayolah katakan saja, jangan buat aku semakin gila "

" mmmm... oke oke, begini, kesinikan telingga tuan "

dan arif membisikkan sessuatu kepada mi'lan si tuan yang lesu dan juga kaku itu, ditengah perjalanan pun arif selesai mengatakan sesuatu pada telingga tuan tersebut"

         " oke oke, kalau itu aku bisa, siiipppp dech"

"jangan bilang mudah dulu, kamu akan menghadapi beberapa rintangan, hehehe...."

dengan panas nya siang yang terik tersebut membuat hati gundah gulana sang tuan tersebutpun terobati walaupun tidak banyak, tapi paling tidak bisa membuat tuan tadi tersenyum dengan leganya